Fakta Tentang Bunga Bangkai dan Info Lainnya

Duniatumbuhan.comIndonesia memiliki berbagai jenis bunga yang khas dan hanya tumbuh di negara ini saja, salah satunya adalah bunga bangkai. Bunga yang satu ini disebut pertama kali ditemukan oleh ahli botani Inggris pada masa penjajahan yakni Dr. Joseph Arnold yang berekspedisi ke hutan Sumatera bersama Sir Thomas Stamford Raffles. Karena penemu itu, maka nama latin dari bunga ini disebut sebagai Rafflesia arnoldii. Masih ada informasi menarik lainnya tentang bunga yang unik ini, karena itu simaklah penjelasan berikut.

Taksonomi Bunga Bangkai

Bunga yang sangat populer sebab aroma yang dikeluarkannya cukup busuk dan menyengat ini termasuk ke dalam kingdom Plantae. Kemudian, clade yang dia ikuti ada tiga yakni Tracheophytes, Angiosperms, dan Monocots. Sementara itu, untuk order bunga ini termasuk ke dalam golongan Alismatales.

Bunga raflesia adalah salah satu anggota yang termasuk ke dalam keluarga Araceae atau keluarga tumbuhan jenis talas-talasan. Sebab, pada satu umbi bunga ini pada umumnya akan muncul satu tunas yang menjulang ke atas. Bentuk dan ukuran dari umbi tersebut bervariasi, tergantung dari jenis yang dimilikinya. Selain itu, ukuran garis tengah umbi akan mencapai sekitar 80 cm ketika sudah dewasa.

Amorphopallus titanium merupakan salah satu spesies genus Amorphopallus yang ukurannya sangat besar, dan dianggap paling besar dibandingkan genus lainnya. Tidak hanya A. titanium saja, namun masih ada pula jenis endemik yang lain seperti Amorphopallus gigas yang ukurannya mampu mencapai tinggi 5 meter.

Jenis-Jenis

Tahukah Anda, bahwa ternyata ada begitu banyak jenis bunga raflesia yang bisa ditemukan di Indonesia dan negara lain. Sebenarnya, bunga ini mudah untuk hidup di masa saja, mulai dari halaman rumah hingga di hutan sekali pun. Karena itu, penting untuk mengetahui ciri-ciri dari setiap jenis bunga raflesia ini. Berikut ini adalah beberapa jenis dan penjelasan singkatnya.

Baca Juga :  Bunga Lavender: Cara Menanam, Merawat, dan Taksonomi

1. Padma Raksasa

Padma Raksasa merupakan jenis bunga yang asli ditemukan di Indonesia dan disebut-sebut sebagai bunga terbesar yang ada di seluruh dunia. Bunga ini sebenarnya cukup unik karena berbeda dengan tumbuhan lainnya, Anda tidak akan menemukan akar, batang, atau daun pada bunga ini. Bunganya terdiri atas lima kelopak yang berukuran sangat besar, dengan tekstur permukaan yang kasar dan tebal.

Warna dari kelopak bunga ini sering kali berwarna merah cerah pekat atau oranye disertai oleh keberadaan bintik-bintik yang warnanya putih. Apabila hendak memasuki masa mekar, maka diameter kelopak bunga akan berubah mencapai 70 sampai 110 cm dengan tinggi yang bisa mencapai 50 cm. Tumbuhan ini merupakan tumbuhan parasit obligat yang bisa tumbuh pada batang tumbuhan liana atau tumbuhan merambat, sehingga jika inangnya mati maka bunga ini akan mati pula.

2. Bagana

Jenis yang selanjutnya memiliki nama latin Amorphophallus abyssinicus dan sering dikenal pula dengan sebutan nama Bagana atau Sidamo. Tanaman yang satu ini adalah tanaman asli yang berasal dari Afrika dan hidup subur di kawasan Ethiopia Selatan. Di daerah Ethiopia sendiri, Bagana dibudidayakan dipakai sebagai salah satu bahan makanan untuk kehidupan sehari-hari.

Tumbuhan ini tumbuh per tahun dengan daun berdaging yang akan tumbuh setinggi 30 meter dari umbi bawah tanah. Umbi tersebut akan dikumpulkan oleh penduduk lokal terutama ketika sedang masa kekeringan atau kekurangan makanan sehingga mereka tidak merasa kelaparan. Karena itu, di Ethiopia tumbuhan ini dijadikan sebagai tanaman pangan yang disimpan di ladang untuk membantu masa paceklik.

3. Amorphophallus bulbifer

Amorphophallus bulbifer merupakan salah satu jenis bunga selanjutnya yang dianggap sebagai yang paling cantik dibandingkan dengan jenis yang lainnya. Terlebih, bunga yang satu ini juga tidak mengeluarkan bau busuk yang mengganggu dibandingkan dengan genus yang lainnya. Amorphophallus bulbifer hanya akan mekar ketika sudah dewasa dan itu pun tidak akan mekar setiap tahun secara rutin.

Bau tidak sedap yang muncul dari bunga ini kemungkinan hanya muncul beberapa jam saja setelah bunga sudah mekar. Tangkai biji bunga ini sangat cantik dan indah karena bijinya mampu memiliki warna yang berubah-ubah, mulai dari warna hijau hingga menjadi merah. Selama ini, umbi dari amorphophallus bulbifer tidak bisa menghasilkan daun sama seperti jenis yang lain.

Baca Juga :  Cara Mudah Menanam Bunga Melati Agar Berbunga Rimbun

4. Iles-Iles

Jenis yang lain adalah iles-iles atau coblok yang sudah cukup familier di telinga masyarakat Indonesia karena sudah sering ditemukan dan dipakai dalam kehidupan. Tanaman ini menghasilkan umbi yang bisa dikonsumsi dengan mudah oleh manusia dan proses pengolahannya pun tidak akan terlalu sulit. Iles-iles dapat tumbuh dengan cukup mudah, karena tumbuhannya tidak menghendaki syarat ekologis yang terlalu tinggi.

Bahkan, iles-iles memiliki tingkat toleransi terhadap naungan sebesar 60% dan mampu dibudidayakan secara non-intensif dan intensif pada kawasan kelapa, sawi, perkebunan karet, maupun di pekarangan. Kini, iles-iles menjadi salah satu tumbuhan yang sering dipromosikan sebagai tanaman sumber pangan serta tanaman untuk memperoleh pendapatan alternatif.

Baca Juga: Nama Nama Bunga dan Artinya

5. Konnyaku

Konjac atau konnyaku merupakan tanaman asli yang berasal dari Asia Timur dan Asia Tenggara. Tanaman ini masih satu kerabat dengan bunga raflesia dan nama latinnya adalah Amorphophallus konjac. Hal yang membuatnya cukup unik adalah konnyaku lebih sering dibudidayakan di daerah Jepang dan Korea Selatan saja, meskipun bisa tumbuh pula di Indonesia.

Konnyaku sering menjadi bahan makanan ketika sedang diet karena kandungan kalorinya yang sangat rendah namun tetap memiliki serat yang tinggi. Tekstur konnyaku mirip seperti jeli dan karet, hanya saja dia terasa hambar dan bahkan tidak ada rasanya sama sekali. 97 persen kandungan konnyaku adalah air sehingga bisa membantu menghindari terjadinya dehidrasi.

6. Suweg

Suweg sering kali dianggap sebagai tumbuhan yang sama seperti iles-iles, namun sebenarnya keduanya sangat berbeda. Meskipun begitu, suweg dan iles-iles masih termasuk pada anggota genus yang sama yaitu Amorphophallus. Nama lain dari tumbuhan ini adalah porang dan tumbuh subur di kawasan Filipina, India tropik bagian selatan, dan Malesia.

Cara Menanam dan Merawat Bunga Bangkai

Pemerintah Indonesia sekarang menggalakkan upaya untuk menjaga agar bunga yang berbau busuk ini tetap lestari di negara ini. Bahkan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menyarangkan program untuk menanam bunga ini di dalam pot sehingga tidak akan punah.

Baca Juga :  Bunga Matahari: Cara Menanam Dan Merawat

Manfaat Bunga Bangkai

Ternyata, bunga ini juga menyediakan manfaat yang sangat melimpah. Berikut adalah beberapa manfaatnya yang bisa diketahui:

  • Menjaga kesehatan tulang dengan baik
  • Dijadikan sumber karbohidrat yang rendah kalori
  • Mencegah ancaman keluhan beberapa penyakit

FAQ

Loader image

Bunga bangkai adalah tanaman bunga raksasa yang memiliki aroma khas yang berbau busuk seperti bangkai. Bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum) berasal dari hutan hujan Sumatera bagian barat, Indonesia.

Perbedaan bunga bangkai dan Raflesia arnoldi jelas tampak pada jenis spesies, serta bentuk anatomi kedua bunga tersebut. Namun, persamaan bunga bangkai dan Rafflesia arnoldi adalah sama-sama memiliki bau busuk.

Melansir laman resmi KSDAE edisi (12/11/2018), bunga bangkai merupakan tumbuhan khas dataran rendah yang tumbuh di daerah beriklim tropis dan subtropis.

Selain mengandung karbohidrat, umbi bunga bangkai juga mengandung kalsium. Diketahui, kalsium sangat baik untuk menjaga kesehatan tulang kita. Umbi bunga bangkai banyak mengandung banyak nutrisi yang baik, seperti karbohidrat, kalsium, dan mineral.

Dilansir dari laman resmi College of Bilogogical Sciences, University of Minnesota, titan bunga bangkai mampu dapat tumbuh dan bereproduksi sampai menginjak usia 40 tahun.

Bunga Bangkai dengan nama latin Amorphophallus titanum ini hanya mekar dalam rentang 4 tahun sekali.

Begitulah informasi mengenai bunga bangkai yang dapat menjadi ilmu baru bagi Anda. Siapa sangka, ternyata bunga yang dianggap sebagai ikon di Kebun Raya Bogor ini menghadapi ancaman kepunahan meskipun sudah terkenal di dunia. Karena itu, mari kita bantu melestarikan bunga ini agar tetap bisa ditemukan dengan mudah di masa depan.

Bagikan Artikel :
About Ibnoe

Ibnoe penulis DuniaTumbuhan.com, adalah seorang tukang kebun berusia 40 tahun, memulai perjalanan saya di dunia tanaman saat remaja. Melalui pengalaman luas saya dalam berkebun, saya cenderung memberikan konten berkebun dengan kualitas terbaik dan paling mendalam di internet.

Leave a Comment